(Burgerlijk
Wetboek, Staatsblad 1847 No. 23)
BUKU KETIGA
TENTANG PERIKATAN (VAN
VERBINTENISSEN)
BAGIAN 1
Sifat Pemberian Kuasa
Sifat Pemberian Kuasa
1792. Pemberian kuasa ialah suatu persetujuan
yang berisikan pemberian kekuasaan kepada orang lain yang menerimanya untuk
melaksanakan sesuatu atas nama orang yang memberikan kuasa.
1793. Kuasa dapat diberikan dan diterima dengan
suatu akta umum, dengan suatu surat di bawah tangan bahkan dengan sepucuk surat
ataupun dengan lisan.
Penerimaan suatu kuasa
dapat pula terjadi secara diam-diam dan disimpulkan dari pelaksanaan kuasa itu
oleh yang diberi kuasa.
1794. Pemberian kuasa terjadi dengan cuma-cuma,
kecuali jika diperjanjikan sebaliknya.
Jika dalam hal yang
terakhir upahnya tidak ditentukan dengan tegas, maka penerima kuasa tidak boleh
meminta upah yang lebih daripada yang ditentukan dalam Pasal 411 untuk wali.
1795. Pemberian kuasa dapat dilakukan secara
khusus, yaitu hanya mengenai satu kepentingan tertentu atau lebih, atau secara
umum, yaitu meliputi segala kepentingan pemberi kuasa.
1796. Pemberian kuasa yang dirumuskan secara
umum hanya meliputi tindakan- tindakan yang menyangkut pengurusan.
Untuk memindahtangankan barang
atau meletakkan hipotek di atasnya, untuk membuat suatu perdamaian, ataupun
melakukan tindakan lain yang hanya dapat dilakukan oleh seorang pemilik,
diperlukan suatu pemberian kuasa dengan kata-kata yang tegas.
1797. Penerima kuasa tidak boleh melakukan
apa pun yang melampaui kuasanya, kekuasaan yang diberikan untuk menyelesaikan
suatu perkara secara damai, tidak mengandung hak untuk
menggantungkan penyelesaian perkara pada keputusan wasit.
menggantungkan penyelesaian perkara pada keputusan wasit.
1798. Orang-orang perempuan dan anak yang belum
dewasa dapat ditunjuk kuasa tetapi pemberi kuasa tidaklah berwenang untuk
mengajukan suatu tuntutan hukum terhadap anak yang belum dewasa, selain menurut
ketentuan-ketentuan umum mengenai perikatan-perikatan yang dibuat oleh anak
yang belum dewasa, dan terhadap orang-orang perempuan bersuami yang menerima
kuasa tanpa bantuan suami pun ia tak berwenang untuk mengadakan tuntutan hukum
selain menurut ketentuan-ketentuan Bab 5 dan 7 Buku Kesatu dari Kitab
Undang-undang Hukum Perdata ini.
1799. Pemberi kuasa dapat menggugat secara
langsung orang yang dengannya penerima kuasa telah melakukan perbuatan hukum
dalam kedudukannya dan pula dapat mengajukan tuntutan kepadanya untuk memenuhi
persetujuan yang telah dibuat.
BAGIAN 2
Kewajiban Penerima Kuasa
Kewajiban Penerima Kuasa
1800. Penerima kuasa, selama kuasanya belum
dicabut, wajib melaksanakan kuasanya dan bertanggung jawab atas segala biaya,
kerugian dan bunga yang timbul karena tidak dilaksanakannya kuasa itu.
Begitu pula ia wajib
menyelesaikan urusan yang telah mulai dikerjakannya pada waktu pemberi kuasa
meninggal dan dapat menimbulkan kerugian jika tidak segera diselesaikannya.
1801. Penerima kuasa tidak hanya bertanggung
jawab atas perbuatan-perbuatan yang dilakukan dengan sengaja melainkan juga
atas kelalaian-kelalaian yang dilakukan dalam menjalankan kuasanya.
Akan tetapi tanggung
jawab atas kelalaian-kelalaian orang yang dengan cuma-cuma menerima kuasa,
tidaklah seberat tanggung jawab yang diminta dari orang yang menerima kuasa
dengan mendapatkan upah.
1802. Penerima kuasa wajib memberi laporan kepada
kuasa tentang apa yang telah dilakukan serta memberikan perhitungan tentang
segala sesuatu yang diterimanya berdasarkan kuasanya, sekalipun apa yang
diterima itu tidak harus dibayar kepada pemberi kuasa.
1803. Penerima kuasa bertanggungjawab atas orang
lain yang ditunjuknya sebagai penggantinya dalam melaksanakan kuasanya:
1. bila tidak diberikan
kuasa untuk menunjuk orang lain sebagai penggantinya
2. bila kuasa itu
diberikan tanpa menyebutkan orang tertentu sedangkan orang yang dipilihnya
ternyata orang yang tidak cakap atan tidak mampu.
Pemberi kuasa senantiasa
dianggap telah memberi kuasa kepada penerima kuasanya untuk menunjuk seorang
lain sebagai penggantinya untuk mengurus barang-barang yang berada di luar
wilayah Indonesia atau di luar pulau tempat tinggal pemberi kuasa.
Pemberi kuasa dalam
segala hal, dapat secara langsung mengajukan tuntutan kepada orang yang telah
ditunjuk oleh penerima kuasa sebagai penggantinya.
1804. Bila dalam satu akta diangkat beberapa penerima
kuasa untuk suatu urusan, maka terhadap mereka tidak terjadi suatu perikatan
tanggung-menanggung kecuali jika hal itu ditentukan dengan tegas dalam akta.
1805. Penerima kuasa harus membayar bunga atau uang
pokok yang dipakainya untuk keperluannya sendiri terhitung dari saat ia mulai
memakai uang itu, begitu pula bunga atas uang yang harus diserahkannya pada
penutupan perhitungan terhitung dari saat ia dinyatakan lalai melakukan kuasa.
1806. Penerima kuasa yang telah memberitahukan
secara sah hal kuasanya kepada orang yang dengannya ia mengadakan suatu
persetujuan dalam kedudukan sebagai penerima kuasa, tidak bertanggung jawab
atas apa yang terjadi diluar batas kuasa itu, kecuali jika ia secara pribadi
mengikatkan diri untuk itu.
BAGIAN 3
Kewajiban-kewajiban Pemberi Kuasa
Kewajiban-kewajiban Pemberi Kuasa
1807. Pemberi kuasa wajib memenuhi
perikatan-perikatan yang dibuat oleh penerima kuasa menurut kekuasaan yang
telah ia berikan kepadanya.
Ia tidak terikat pada
apa yang telah dilakukan di luar kekuasaan itu kecuali jika ia telah menyetujui
hal itu secara tegas atau diam-diam.
1808. Pemberi kuasa wajib mengembalikan persekot
dan biaya yang telah dikeluarkan oleh penerima kuasa untuk melaksanakan
kuasanya, begitu pula membayar upahnya bila tentang hal ini telah diadakan
perjanjian.
Jika penerima kuasa
tidak melakukan suatu kelalaian, maka pemberi kuasa tidak dapat menghindarkan
diri dari kewajiban mengembalikan persekot dan biaya serta membayar upah
tersebut di atas, sekalipun penerima kuasa tidak berhasil dalam urusannya itu.
1809. Begitu pula pemberi kuasa harus memberikan ganti
rugi kepada penerima kuasa atas kerugian-kerugian yang dideritanya sewaktu
menjalankan kuasanya asal dalam hal itu penerima kuasa tidak bertindak kurang
hati-hati.
1810. Pemberi kuasa harus membayar bunga atas persekot
yang telah dikeluarkan oleh penerima kuasa, terhitung mulai hari dikeluarkannya
persekot itu.
1811. Jika seorang penerima kuasa diangkat oleh
berbagai orang untuk menyelenggarakan suatu urusan yang harus mereka selesaikan
secara bersama, maka masing-masing dari mereka bertanggung jawab untuk
seluruhnya terhadap penerima kuasa mengenai segala akibat dari pemberian kuasa
itu.
1812. Penerima kuasa berhak untuk menahan kepunyaan
pemberi kuasa yang berada di tangannya hingga kepadanya dibayar lunas segala
sesuatu yang dapat dituntutnya akibat pemberian kuasa.
BAGIAN 4
Bermacam-macam Cara Berakhirnya Pemberian Kuasa
Bermacam-macam Cara Berakhirnya Pemberian Kuasa
1813. Pemberian kuasa berakhir:
dengan penarikan kembali kuasa penerima kuasa;
dengan pemberitahuan penghentian kuasanya oleh penerima
kuasa;
dengan meninggalnya, pengampuan atau pailitnya, baik
pemberi kuasa maupun penerima kuasa;
dengan kawinnya perempuan yang memberikan atau menerima
kuasa.
1814. Pemberi kuasa dapat menarik
kembali kuasanya bila hal itu dikehendakinya dan dapat memaksa pemegang kuasa
untuk mengembalikan kuasa itu bila ada alasan untuk itu.
1815. Penarikan kuasa yang hanya
diberitahukan kepada penerima kuasa tidak dapat diajukan kepada pihak ketiga
yang telah mengadakan persetujuan dengan pihak penerima kuasa karena tidak
mengetahui penarikan kuasa itu, hal ini tidak mengurangi tuntutan hukum dari
pemberi kuasa terhadap penerima kuasa.
1816. Pengangkatan seorang penerima
kuasa baru untuk menjalankan suatu urusan yang sama, menyebabkan ditariknya
kembali kuasa penerima kuasa yang pertama, terhitung mulai hari diberitahukannya
pengangkatan itu kepada orang yang disebut belakangan.
1817. Pemegang kuasa dapat membebaskan diri dari
kuasanya dengan memberitahukan penghentian kepada pemberi kuasa.
Akan tetapi bila
pemberitahuan penghentian ini, baik karena ia tidak mengindahkan waktu maupun
karena sesuatu hal lain akibat kesalahan pemegang kuasa sendiri, membawa
kerugian bagi pemberi kuasa, maka pemberi kuasa ini harus diberikan ganti rugi
oleh pemegang kuasa itu kecuali bila pemegang kuasa itu tak mampu untuk meneruskan
kuasanya tanpa mendatangkan kerugian yang berarti bagi dirinya sendiri.
1818. Jika pemegang kuasa tidak tahu tentang
meninggalnya pemberi kuasa atau tentang suatu sebab lain yang menyebabkan
berakhirnya kuasa itu, maka perbuatan yang dilakukan dalam keadaan tidak tahu
itu adalah sah.
Dalam hal demikian,
segala perikatan yang dilakukan oleh penerima kuasa dengan pihak ketiga yang
beritikad baik, harus dipenuhi terhadapnya.
1819. Bila pemegang kuasa meninggal dunia, maka
para ahli warisnya harus memberitahukan hal itu kepada pemberi kuasa jika
mereka tahu pemberian kuasa itu, dan sementara itu mengambil tindakan-tindakan
yang perlu menurut keadaan bagi kepentingan pemberi kuasa, dengan ancaman
mengganti biaya, kerugian dan bunga, jika ada alasan untuk itu
Tidak ada komentar:
Posting Komentar